Relasi Orang Tua dan Anak dalam Keluarga

Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul “Relasi Orang Tua dan Anak dalam Keluarga”, Klik untuk baca:
https://www.kompasiana.com/munifa04243/65560b98ee794a6d4a587f82/relasi-orang-tua-dan-anak-dalam-keluarga

Kreator: Munifa Husna Haryanti

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Tulis opini Anda seputar isu terkini di Kompasiana.com

Relasi antara orang tua dan anak sejak anak bayi akan mempengaruhi perkembangan anak, baik perkembangan fisik, kognitif, emosi maupun sosial anak tersebut. Relasi antara orang tua dan anak ketika bayi akan menciptakan rasa percaya anak terhadap orang tua dan ini menjadi awal terbentuknya kelekatan anak dengan orang tua. Lembaga pendidikan pertama adalah keluarga. Mereka adalah fase awal dalam membentuk karakter anak yang baik, mandiri, berpotensial, tangguh dan bertanggung jawab. Keluarga terhubung pada interaksi satu sama lain. Perhatian orang tua terhadap anak menjadi sangat penting yang sangat menentukan perkembangan jiwa dan karakter anak yang menentukan masa depan mereka.

Menurut agama islam, orang tua harus bertanggung jawab dalam memberikan pendidikan yang layak sesuai dengan fitrahnya, yaitu iman kepada Allah SWT, yang merupakan struktur dasar dalam proses penciptaan manusia. Dia memiliki kekuatan untuk tumbuh dan berkembang secara maksimal dan membimbing untuk mencapai tujuan penciptaannya. Al-qur’an menggambarkan dasar iman ketika Luqmanul Hakim memberikan pengetahuan dasar kepada anaknya. Anaknya adalah janji Tuhan yang diberikan kepada setiap orang untuk memelihara amanah dari Allah, karena itu semua rezeki. Banyak diluar sana yang sudah menikah belasan tahun tetapi belum saja dikaruniai seorang anak.

Anak merupakan prioritas dari semua orang tua. Apapun yang dilakukan anak harus sesuai arahan dan keinginan orang tua. Semua itu demi kebaikan anak itu sendiri dimasa depan. Masa depan anak ditentukan bagaimana orang tua membimbing dan memberikan kulaitas pendidikan yang menunjang karirnya. Selain pendidikan sudah sewajibnya orang tua membentuk karakter dari seorang anak dengan mencontohkan hal-hal baik sejak kecil. Diperlukannya sikap tanggung jawab, empati, peduli dan jujur. Ketika seorang anak bisa menjadi baik itu akan membuat kebaikan juga pada orang tuanya.

Karakter seorang anak tergantung pada kulaitas hubungan anak dan orang tua. Kualitas kebersamaan ini bisa dilihat dari interaksi yang dilakukan oleh dua arah, yakni orang tua dan anak yang saling bertukar cerita, canda dan tawa bersama. Waktu bermain bersam orang tua dan anak itu merupakan waktu yang sangat berkualitas dan berharga. Dengan meluangkan waktu dengan anak, maka bisa diharapkan dapat memahami tahapan kembang dan kesiapan belajar pada anak dan juga bisa memberikan masukan untuk kemajuan sekolah sang anak. Hal yag lebih penting adalah dapat menyelaraskan kegiatan anak di rumah dan ligkungan sekitar serta dapat melakukan pengulangan pembiasaan positif dirumah.

Membangun dan mengajarkan nilai-nilai islami pada anak menjadi hal dan kewajiban sebagai orang tua yang paham akan agamanya. Mengajarkan apa itu islam, kejujuran, shalat, dan berbagai nilai islam lainnya pada anak akan membentuk karakter yang paham untuk apa tujuannya hidup di dunia ini, yaitu untuk beribadah pada-Nya.

Senada dengan makna surah Al – isra ayat 23, semua perbuatan yang bisa membuat orang tua sakit hati dilarang dalam Islam. Jika bicara yang menyakitkan tegas dilarang, apalagi memukul atau melakukan tindak kekerasan lain pada orang tua. Sebaliknya, Allah SWT menyiapkan ganjaran bagi mereka yang mengabaikan aturan bersikap dengan orang tua dalam surah Al-Isra ayat 23. Hal ini diingatkan oleh Rasulullah SAW dalam haditsnya

“Tiga orang yang tidak akan dipandang Allah di hari kiamat. Yang durhaka kepada orang tua, yang kecanduan alkohol, yang juga mengungkit-ungkit pemberian. Dan tiga orang yang tidak akan masuk surga, yang durhaka pada orang tua, dayyuts (membiarkan istrinya melakukan maksiat), dan lelaki yang menyerupai perempuan.” (HR Nasa’i)

Dari hadis diatas secara tegas Allah melarang durhaka pada kedua orang tua kita yakni tidak akan masuk sugra anak tersebut. Durhaka pada orang tua merupakan hal yang tidak baik seperti melawan orang tua, berbicara dengan nada yang tinggi dan selalu membantah apa yang dikatakan orang tua kepada anaknya. Baiknya dengan hormat, menyayangi, menjaga, mendoakan dan merawat orang tua itu semua sudah menjadi kewajiban kita sebagai orang yang beriman. 

Jadi, kesimpulannya adalah orang tua yang telah mendidik dan mengurus kita dari bayi sampai besar harus tetap tunduk dan halus pada mereka. Orang tua adalah yang biasa disebut-sebut sebagai birrul walidain (berbuat baik pada orang tua) yang sudah sewajibnya untuk menghormati, berbuat baik, merawat dan membuat orang tua bahagia adalah kunci mendapat ke ridhoan Allah SWT, karena ridho Allah pada ridhonya orang tua.

Kreator: Munifa Husna Haryanti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *